ABOUT US

Our development agency is committed to providing you the best service.

OUR TEAM

The awesome people behind our brand ... and their life motto.

  • Neila Jovan

    Head Hunter

    I long for the raised voice, the howl of rage or love.

  • Mathew McNalis

    Marketing CEO

    Contented with little, yet wishing for much more.

  • Michael Duo

    Developer

    If anything is worth doing, it's worth overdoing.

OUR SKILLS

We pride ourselves with strong, flexible and top notch skills.

Marketing

Development 90%
Design 80%
Marketing 70%

Websites

Development 90%
Design 80%
Marketing 70%

PR

Development 90%
Design 80%
Marketing 70%

ACHIEVEMENTS

We help our clients integrate, analyze, and use their data to improve their business.

150

GREAT PROJECTS

300

HAPPY CLIENTS

650

COFFEES DRUNK

1568

FACEBOOK LIKES

STRATEGY & CREATIVITY

Phasellus iaculis dolor nec urna nullam. Vivamus mattis blandit porttitor nullam.

PORTFOLIO

We pride ourselves on bringing a fresh perspective and effective marketing to each project.

Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts
  • Rokok Sebagai Indikator Ekonomi??

    Rokok adalah satu produk yang kontroversial. Di satu sisi, ia ditentang oleh penggerak anti-merokok secara masif karena dianggap memicu penyakit bagi perokok dan asapnya memaparkan keburukan bagi orang-orang sekitar. Bahkan di beberapa wilayah, perokok dialienasikan, yakni hanya boleh merokok di tempat terkucil, pengap dan jauh dari keramaian. Promosi dan iklan rokok dibatasi penayangannya. Sebaliknya, rokok dikonsumsi oleh jutaan orang sehingga melejitkan pemilik pabrik rokok raksasa dalam pucuk orang terkaya di Indonesia. Pastinya menyumbang pendapatan negara dari sektor pajak (pita cukai rokok). Jumlah produksi rokok tetap meraksasa, terbukti dengan semakin banyaknya varian rokok dengan range harga yang luas. Karena itu, konsumen rokok akan meliputi kalangan bawah sampai kelas sosial atas. Cara penjualannya sangat luwes, bisa dibeli per-batang rokok, dan menyebar dari Ibukota sampai ke pelosok gunung.



    Sejarah rokok sangat panjang, entah mulai sejak kapan kebiasaan merokok dimulai. Setidaknya suku Indian di benua Amerika melakukan ritual “merokok” melalui tradisi “menghisap pipa perdamaian” yang mengeluarkan asap sebagai tanda mengakhiri perselisihan. Ini adalah sebuah antitesa dari “mengangkat kapak peperangan” sebagai aba-aba dimulainya peperangan. Kemudian rokok dapat dikenali dari berbagai jenis yang dapat dibedakan dari kemasan, komposisi, cara mengkonsumsinya dan unsur filosofis yang terkandung di dalamnya. Baca juga: 8 Jenis Rokok Yang Perlu Anda Ketahui

    Terlepas dari kesetiaan perokok kepada jenis rokok tertentu, efek adiktif dan di luar bahasan rokok sebagai status sosial seseorang serta sebagai alat pergaulan, benda yang bahan utamanya adalah daun tembakau kering ini tetap disukai banyak orang sampai waktu lama. Konsistensi dalam konsumsi rokok diduga dapat dijadikan salah satu indikator ekonomi, yakni: kemampuan ekonomi mikro.

    Ada dua hampiran yang digunakan, yaitu: Fluktuasi Harga; dan Perilaku Konsumen. Dilakukan metode yang bersahaja: pengamatan secara sepintas dengan sedikit sekali responden yang diambil secara kebetulan.
    Waaah.....gak ilmiah dong???”.
    Ya iya lah, lha wong ini baru dugaan (bahkan bukan hipotesa yang layak uji). Yang nulis juga bukan ilmuwan yeee.....”.

    Kendati demikian terbersit harapan, bahwa dugaan-dugaan tersebut bisa melahirkan gagasan untuk melakukan penelitian lebih mendalam dengan metodologi yang mumpuni.


    FLUKTUASI HARGA ROKOK

    Harga eceran rokok cenderung naik secara periodik, tanpa pemberitahuan, tanpa gonjang-ganjing dan tanpa demonstrasi. Paling-paling konsumen sedikit protes ke pengecer, dimana sang pengecer sebelumnya telah melakukan protes kepada toko grosir, dan pemilik toko telah melakukannya jauh-jauh hari kepada distributor. Pergerakan harga yang berlangsung senyap itu sama sekali tidak menarik perhatian media.  

    Kenaikan harga, mungkin dikaitkan dengan inflasi, awalnya ditandai dengan perbedaan harga jual rata-rata antara satu warung dengan warung lainnya. Oh ya, perokok akan berusaha keras mencari harga termurah untuk produk yang sama dengan melakukan survei secara random. Dalam hitungan hari semua warung akan menjual dengan harga sama. Contoh (saat ini minggu terakhir bulan Maret 2017): seminggu lalu sebungkus rokok merek dan jenis tertentu berharga Rp. 16.000,00. Hari ini ditemui selisih harga jual, sebuah warung tetap menjual Rp. 16.000,00 sedangkan di warung lainnya sebungkus rokok ditebus seharga Rp. 17.000,00. Diperkirakan dalam tidak lama lagi harga jual rata-rata di warung akan mencapi Rp. 17.000,-.

    Pada  medio tahun 2016 rokok yang sama berharga Rp. 14.000,00. Ketika pertama kali launching, tahun 2012, rokok tersebut ditebus seharga Rp. 12.500,00. Membandingkan harga tahun 2012 dengan 2017, maka terdapat eskalasi harga sebesar rata-rata 5,6% per-tahun. Tingkat kenaikan harga tahun 2016 (Rp. 14.000,00) dibanding 2017 (Rp. 16.000,00) adalah sebesar 14,28 %. Bandingkan dengan tingkat inflasi yang dipublikasi pemerintah. Amazing!

    Inflasi tidak melulu menjadi perhatian pemerintah, pelaku ekonomi skala besar dan pengamat ekonomi & keuangan. Namun bagi kita-kita orang awam, man on the street, apa perlunya menyikapi inflasi? Peningkatan inflasi berarti kuantitas dan atau kualitas barang cenderung berkurang ketika ditukar dengan jumlah uang yang sama. Indikator ini digunakan sebagai peringatan untuk berusaha lebih giat agar pendapatan rumah tangga meningkat dan mengelola pengeluaran secara bijaksana.


    PERILAKU KONSUMEN ROKOK

    Perokok dipastikan tidak akan menghitung inflasi. Bagi mereka yang berpenghasilan cukup, dimana pengeluaran untuk rokok relatif kecil di dalam struktur belanja rumah-tangganya, maka kenaikan tersebut tidak terlalu signifikan. Namun mereka yang memiliki kemampuan keuangan terbatas, kenaikan harga rokok akan merubah perilaku pembelian rokok. Mungkin ia tidak setia kepada merk dan jenis tertentu, tapi ia tetap setia merokok. Ia akan merubah perilaku konsumsi rokok, sebagai salah satu bentuk adaptive behaviour.

    Beberapa adaptasi yang dilakukan, diantaranya:
    1. Berhenti merokok. Barangkali ini upaya tersulit bagi pecandu rokok, namun akan menjadi saran terbaik untuk berhenti dari kecanduan terhadap rokok.
    2. Mengurangi konsumsi rokok, dari biasanya 2 bungkus per-hari menjadi 1 bungkus. Dari 1 bungkus menjadi ½ bungkus, atau bahkan beli rokok batangan.
    3. Substitusi, alias mengganti dengan rokok berjenis sama merek berbeda berharga lebih murah dengan jumlah sama (contoh: baru saja saya mengganti rokok seharga Rp. 16.000,00/bungkus dengan merek lain seharga Rp. 13.500,00 dengan jumlah batang rokok sama........hehehehe).
    4. Down grade,  atau menurunkan kelas rokok. Dari rokok putih impor ke rokok putih lokal (mungkin sulit di dapat). Dari rokok putih ke rokok kretek mild. Dari rokok berfilter ke rokok kretek tidak non-filter. Dari rokok ber-merek terkenal ke rokok yang hanya dapat kita temui di pinggiran kota atau pelosok desa.
    5. Berhenti membeli rokok. Saat keiinginan merokok telah memuncak, berkunjunglah ke tetangga, ke pos ronda, ke rumah saudara dan kerabat, atau menyambangi teman-teman yang sedang berkumpul, lantas mulailah menghisap rokok yang mereka tawarkan. Memalukan, tapi ya gimana lagi?
    6. Membuat rokok tingwe, yakni merakit batang rokok dari tembakau rajang (slag) yang dilinting pada kertas rokok (papir/paper). Di pasaran. tembakau rajang tersedia berbagai pilihan jenis, rasa dan kualitas. Demikian juga kertas rokok. Gabus untuk filter rokok juga ada di pasaran. Selain melinting dengan tangan, ada baiknya beli alat pelinting rokok, yang sederhana terbuat dari kayu. Dengan alat ini bisa lebih banyak rokok diproduksi sendiri. Lama kelamaaan akan mahir dalam menggunakan alat, ahli dalam memilih tembakau yang baik, akhirnya terlatih meracik campuran tembakau dengan saus/rempah. Siapa tahu rokok yang awalnya untuk konsumsi sendiri bisa menarik minat teman-teman lainnya. Peluang ini jika ditekuni dapat menjadi potensi sumber pendapatan tambahan. Toh, pangsa pasarnya jelas. Jangan lupa, jika permintaan naik, pertimbangkan untuk mengurus perijinan, merek terdaftar, kemasan, pemasaran dan distribusi.


    Pola konsumsi, jumlah dan merek rokok yang dibeli akan mengindikasikan taraf hidup penduduk suatu daerah. Di perkotaan akan mudah ditemui di pasaran merek-merek terkenal. Sebagian besar perokok perkotaan cenderung membawa sebungkus rokok merek terkenal. Di pinggiran kota, pedesaaan sampai ke pelosok perkampungan, rokok merek terkenal akan semakin sedikit jumlahnya. Kita lebih mudah menemukan rokok dengan merek yang baru kita ketahui (ada rokok kretek tanpa filter seharga Rp. 6.000,00 per-bungkus). Pabrikan rokok kelas low-end menyasar pemasaran ke wilayah tersebut. Dengan harga murahpun, perokok di pelosok akan membelinya secara batangan, jarang sebungkus. Hal ini bisa mengindikasikan taraf hidup rata-rata penduduk desa rendah.

    Bagi anda yang jeli, bisa membuka peluang mendistribusikan rokok kelas menengah-bawah (dari pabrik-pabrik rokok kecil di Kudus atau Malang). Anda juga bisa memasarkan rokok tingwe alias produksi sendiri yang telah berijin-edar ke pelosok. Perlu effort besar, namun kemauan yang kuat akan membuahkan hasil menakjubkan.

    Jangan lupakan saya,  ketika anda masuk dalam daftar orang terkaya di Indonesia!


    Selamat mencoba dan sukses untuk anda!
  • Distrust Sebagai Pemicu Konflik

    Tawuran antar sesama pelajar; tawuran antar kelompok warga bertetangga; perdebatan panas tentang perbedaan preferensi politik, di alam nyata dan dunia maya; perebutan pengaruh dan kepentingan pada ruang bertingkat kekuasaan; pertengkaran dan saling fitnah dengan mengusung isu s.a.r.a; dan banyak lagi yang berita tentang perenggangan hubungan pada hampir semua lini kehidupan.

    Semua peristiwa perbedaan berbahan-bakar kemarahan, perbedaan dalam kemarahan menyulut bara prasangka, pertentangan bernuansa kemarahan memompa perpecahan lalu mengobarkan bentrokan. Resultante dari rangkaian bentrokan adalah menguaknya perang saudara. Prasangka/ketidak-percayaan alias distrust adalah embrio dari segala kekacauan dan kebuntuan komunikasi.

    Ada ujaran DALAI LAMA yang kurang-lebih menggambarkan situasi tersebut:
    As a human beeing, anger is a part of our mind. Irritation also part of our mind. But you can do –anger come, go. Never kept in your sort of- your inner world, then create a lot of suspicion, a lot of negative things, more worry”.

    (Sebagai manusia, kemarahan adalah bagian dari pikiran. Rasa sakit hati juga bagian dari pikiran.
    Namun anda memiliki kewenangan ini: “Rasa kemarahan bisa dikendalikan. Memendamnyanya  di dalam benak, hanya akan menggelembungkan gelombang prasangka, meluapkan hawa negatif, dan meningkatkan suhu kekhawatiran”).

    Seandainya saja setiap-tiap orang mampu mengelola pikiran dan mengalihkan energi kemarahan kepada ihwal yang lebih produktif, dapat diduga akan lahir kembali suasana saling tolong-menolong, saling menghargai perbedaan, mampu mendengarkan pendapat orang lain, saling percaya satu sama lain bahwa setiap orang memiliki tugas mulia dan peran masing-masing.

    Pelajar dan mahasiswa memusatkan perhatian kepada tugas belajar dan pengembangan keilmuan. Pedagang, pengusaha, pekerja, dan semua pelaku sektor ekonomi menjalankan tugas untuk memajukan perdagangan barang dan jasa dalam kerangka kerjasama / kontrak kerja yang sepadan. Pemangku jabatan dan pejabat bertugas melayani warga negara tanpa mengindahkan kepentingan pribadi maupun kelompok pendukungnya. Pengurus organisasi massa dan partai bertugas menyerap dan menyalurkan aspirasi murni konstituennya, dan seterusnya.

    Kemudian, tugas bersama seluruh komponen pembentuk negeri ini adalah mengikir, mengikis dan menghilangkan nuansa distrust dalam segal segi kehidupan.

    Sayang tulisan ini hanyalah sebuah angan-angan, yang sulit diejawantahkan.



    Selamat bekerja dan sukses untuk anda!
  • Reorientasi Pola Konsumsi Menuju Kemandirian Bangsa

    Gema “Gemah Ripah Loh Jinawi” terdengar lamat-lamat, lantas senyap ditelan gemuruhnya perebutan kepentingan di antara anak bangsa. Sumber daya alam, sebagai bagian dari rantai produksi komoditas yang berpotensi menghasilkan devisa dan sumber pangan, sejenak diabaikan dipinggirkan dan dijadikan obyek demi memuluskan raihan kepentingan kelompok atau pribadi, Sumber daya alam dikaryakan dan “dikontrak-karyakan” kepada pihak ketiga demi hanya mendapatkan dampak tetesan keuntungan bagi rakyat banyak. Bagi sebahagian pihak yang terlibat dalam pemanfaatan sumber daya alam manfaat yang didapat amatlah besar, terus mengalir deras ke kantung-kantung pribadi sampai ke anak cucu. Sampai titik ini hidup mereka sentosa, aman dan langgeng. Tidak bagi bahagian terbesar rakyat yang hanya bisa menonton pertunjukan: “oil booming”; “kegiatan pengerukan raksasa tambang mineral”; “penerapan hak pengelolaan hutan”; “proyek perkebunan inti rakyat, yang men-substitusi perkebunan tradisional menjadi perkebunan monokultur”.

    Posisi geo-politik, potensi sumber daya alam yang melimpah, dan sumber daya manusia Indonesia (dahulu disebut Nusantara) telah menarik minat bangsa (baca: pedagang) asing untuk mengeksploitasi kekayaan yang merupakan anugerah Tuhan. Tercatat, para pedagang dari seluruh penjuru dunia pernah bertransaksi di negeri ini, Persia, China, India, Mongolia, Spanyol, Portugis, Belanda, Inggris dan Jepang. Mereka mengirim pedagang, yang mendapatkan “endorsement” dari negara atau kerajaannya masing, untuk mengoptimalkan komoditas yang berpotensi menghasilkan keuntungan tinggi (dari sisi kacamata mereka). Pola perdagangan seperti ini selalu berulang, diperbaharui sesuai perkembangan ilmu dagang. Konstelasinya selalu tetap: mereka untung besar, kita kebagian sedikit dan merasa puas. 

    Model pertukarannya dirumuskan seperti ini:

    (TEKNOLOGI+TENAGA AHLI+KAPITAL) : (SDA+SDM) = LABA INVESTOR : HASIL KONTRAK KARYA

    Teknologi adalah alat untuk menjalankan proses menaikkan nilai sumber daya alam menjadi bahan mentah atau bahan setengah jadi
    Tenaga ahli yang menjalankan proses teknologi.
    Kapital, atau modal, digunakan untuk membiayai pembelian teknologi, upah tenaga ahli, seluruh rangkaian proses produksi dan upah pekerja.
    SDA, sumber daya alam, adalah sumber-sumber yang memiliki skala keekonomian yang memiliki captive market, seperti: mineral hasil tambang, hasil perkebunan, hasil pertanian dan hasil peternakan/perikanan.
    SDM, sumber daya manusia, merupakan komponen padat karya yang digunakan untuk kegiatan produksi yang tidak memerlukan teknologi.

    Dengan “mengagunkan” SDA dan SDM dalam format supply guarantee, diperoleh permodalan dari sumber pembiayaan (hutang) luar negeri –dihaluskan dengan kata “bantuan” dan “pinjaman lunak” -dengan tenor pengembalian 25 tahun. Termasuk di dalam persyaratan hutang adalah opsi pembelian teknologi dan tenaga ahli yang bisa mengoperasikannya, tentu saja dalam standar harga mata uang asing dan sales guarantee  yang mengatur penyerapan (penjualan) barang hasil produksi.  Tanpa perlu repot-repot, kekayaan sumber daya alam telah dikontrak-karyakan dengan hasil menggiurkan. Namun jika dikonversikan kepada biaya dana (bunga hutang), biaya pemeblian teknologi, pembayaran upah tenaga ahli luar negeri, perubahan ekosistem alami, biaya sosial, dan keterlambatan peralihan teknologi, maka struktur pembiayaan akan menjadi beban yang sangat besar pada saat jatuh tempo pembayaran hutang (hutang tahun 1970’an jatuh tempo pada tahun 1995’an, yang berakhir pada krisis moneter).

    Selama masa keemasan menikmati hasil kontrak karya, ditambah dengan rekayasa stabilisasi ekonomi, maka seluruh rakyat Indonesia berada dalam comfort zone: harga 9 pokok dikendalikan agar murah, bahan bakar minyak murah, listrik murah (kendati harga pokok penjualan lebih tinggi), tak perlu repot-repot memproduksi barang yang berorientasi ekspor. Termasuk rasa nyaman adalah cepat belajar meningkatkan konsumsi, sebagai bagian untuk memenuhi kriteria penduduk negara maju.

    Sumber Daya Manusia yang besar dan konsumtif merupakan magnitude bagi produsen luar negeri untuk menjual sebesar-besarnya barang yang dibutuhkan, primer maupun sekunder. Beras, kedelai, minyak sawit, susu bubuk adalah sedikit contoh yang meruntuhkan produsen beras, petani kedelai, pengrajin kopra/minyak kelapa, peternak susu murni cair. Demikian sistematis perubahan pola konsumsi, sehingga saat ini hampir dalam seluruh bidang kehidupan sangat mudah ditemui produk impor. Sebutlah, maka daftarnya akan sangat panjang. Bukan berarti pengusaha, petani, peternak, dan produsen barang tidak mampu memproduksinya, namun skala keekonomiannya tidak layak dibanding produk luar. Pelaku ekonomi domestik akan berhadapan dengan pelaku ekonomi luar yang di-support penuh oleh negaranya.

    Untuk “melawan” ketimpangan struktural di atas memerlukan energi yang luar biasa dan dukungan masif dari seluruh komponen bangsa, serta membutuhkan waktu yang tidak dapat ditentukan. Langkah yang bisa dilakukan, bisa dari sklala kecil dan berada dalam ruang kendali masing-masing anak bangsa adalah dengan melakukan re-orientasi pola konsumsi.

    Tidak dengan menggunakan jargon “mengencangkan ikat pinggang” seperti pernah dipropagandakan pada jamannya, tetapi dengan menentukan pilihan pola konsumsi, dengan pengurangan dan substitusi.

    Pengurangan konsumsi bisa bermakna luas, di antaranya: mengkonsumsi produk jika memang benar-benar dibutuhkan. Contoh kecil: dalam suatu acara perjamuan, ambillah makanan tidak berlebihan agar tidak bersisa sebutir nasipun pada piring; melakukan perhitungan cermat dalam proses produksi suatu barang, agar pemakaian bahan baku optimal; berjalan-kaki atau bersepeda untuk tujuan yang dekat, agar mengurangi bahan bakar dan umur pakai komponen; menolak bungkus plastik dan membawa wadah (tas belanja) dari rumah saat berbelanja. Tindakan sederhana dan dampaknya sangat kecil, namun ketika perbuatan serentak diakumulasi ia akan menjadi suatu gerakan yang penting.

    Substitusi pilihan konsumsi merupakan aktivitas pemilihan produk secara seksama yang mempertimbangan barang serupa buatan lokal atau hasil olahan lokal dibanding barang serupa buatan luar negeri. Mungkin banyak orang akan mempertanyakan perbandingan kualitas, penampilan, ketersediaan di pasaran dan –yang paling parah- daya angkat gengsi. Seorang pesohor akan merasa turun derajat saat memilih bedak buatan lokal dibanding impor. Beberapa contoh antara lain: beli ayam goreng kampung dibanding ***fried chicken; pakai kaos bandung dibanding kaos impor; beli olahan singkong dibanding roti; dan seterusnya. Memang pilihan produk lokal terbatas dibanding produk impor. Tak ada salahnya memulai langkah kecil dan sederhana.

    Dengan perubahan pola pilihan atau re-orientasi pola konsumsi, suatu saat dapat memicu kebangkitan produsen lokal untuk memenuhi kembali kebutuhan pasar domestik. Akan lebih baik jika produk memiliki keunggulan komparatif di pasar luar negeri. Negara dapat memberikan insentif (pengurangan pajak dan bea) untuk barang-barang yang berorientasi ke pasar luar negeri (regional maupun internasional).

    Semoga mimpi ini bisa menjadi nyata, tergantung diri kita yang menghindari ini: Distrust Sebagai Pemicu Konflik.


    Selamat bekerja dan sukses untuk anda!
  • MEGAKORUPSI E-KTP: Sebuah Pergeseran Makna Kebersamaan?

    Kasus dugaan korupsi proyek e-KTP telah menghempaskan sejumlah nama besar yang disebut-sebut telah menerima uang suap untuk memuluskan penayangan proyek pengadaan tersebut. Proyek senilai Rp. 5,9 Trilyun yang diadakan selama tahun 2011-2012 oleh Kementerian Dalam Negeri  mengindikasikan “bancakan rame-rame” dengan menggoreng proses pelelangan sampai dengan pelaksanaannya. Alhasil, sekitar Rp. 2,3 Trilyun dari anggaran pengadaan e-KTP telah ditelan dinikmati oleh mereka dari kalangan terhormat, baik penyedia jasa (pengusaha), pejabat Kementerian Dalam Negeri sampai dengan anggota DPR yang nota-bene mewakili rakyat. Entah rakyat bagian mana?

    Korupsi proyek pengadaan, dalam banyak kasus, pasti dilakukan bersama-sama oleh banyak pelaku. Sejak dari perencanaan pengadaan, proses pelelangan melalui e-procurement , dan dalam pelaksanaanya sampai dengan serah-terima hasil pekerjaan akan melibatkan beberapa orang yang bertanggung-jawab terhadap proses itu. Dua terdakwa sedang disidang dan 19 politikus yang diduga memakan uang suap telah diperiksa oleh aparat hukum.

    Maka terjadilah perbuatan mencuri anggaran negara (korupsi adalah penghalusan istilah) yang dilakukan secara bergerombol. Gerombolan perampok yang bancaan memakan uang hasil keringat banyak orang. Pajak yang dibayarkan wajib pajak kepada kas negara adalah hasil jungkir-balik kegiatan usaha warga negara Indonesia.

    Bancaan uang negara bisa jadi mengadopsi kebersamaan dan kegotong-royongan warga desa. Kebersamaan warga desa adalah bentuk solidaritas positif. Sedangkan kebersamaan para koruptor adalah bentuk persekongkolan yang merugikan negara untuk kepentingan diri sendiri dan selingkuhannya.


    Bancaan versi asli dan positif adalah suatu kegiatan makan bersama beberapa orang yang telah usai bergotong-royong untuk kepentingan bersama dengan format menu yang bersahaja: nasi liwet  yang digelar di atas daun pisang, oseng tempe-teri, jengkol goreng, irisan timum, daun cintrong dan sambal pedas. Seperti tergambar di bawah ini:   

  • Powered by Blogger.

    Facebook

    Followers

    Followers

    Powered By Blogger

    Blog Archive

    Breaking

    Random Posts

    Recent In Internet

    Recent Posts

    Recent Post

    Recent in Sports

    Iklan

    Facebook

    Click Here

    Comments

    Recent

    Technology

    Follow Us

    WHAT WE DO

    We've been developing corporate tailored services for clients for 30 years.

    CONTACT US

    For enquiries you can contact us in several different ways. Contact details are below.

    Empowering Life

    • Street :Road Street 00
    • Person :Person
    • Phone :+045 123 755 755
    • Country :POLAND
    • Email :contact@heaven.com

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua.

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation.