Showing posts with label Kuliner. Show all posts
Showing posts with label Kuliner. Show all posts
Melewati jalan propinsi Cianjur – Sukabumi, tepatnya sebelum gerbang
“Selamat Datang di Kota Sukabumi” belok terdapat pertigaan ke kanan menuju ke
perkebunan Goal Para. Menuntaskan rasa penasaran sebelum melanjutkan perjalanan
ke Bogor, ada baiknya menyegarkan mata dan pernafasan dengan energi perkebunan
yang sejuk.
Jalan Goal Para yang menanjak ternyata telah dilapis aspal hot-mix, sehingga tidak perlu
mengerahkan tenaga ekstra untuk menghindari jalan berlubang, untuk mencapai
lokasi. Cukup beristirahat kurang dari dua jam, badan terasa segar kembali
setelah menghirup udara pegunungan yang penuh dengan oksigen bersih. Waktunya
untuk kembali dan meneruskan perjalanan ke Bogor.
Selain menyegarkan, hawa sejuk rupanya membuat perut menuntut asupan
makanan. Masalahnya, di tempat yang terpencil ini tidak mudah menemukan makanan
yang mengundang selera. Jajanan banyak, seperti mie ayam, baso, dan sejenisnya.
Namun keinginan untuk menyantap masakan nasi berlauk-pauk lebih menguat.
Perlahan menuruni jalan, terlewati sebuah rumah makan kecil. Setelah
memutar-balik di halaman parkir sebuah convenience
store, tibalah kami di Rumah MakanFathimah di daerah Babakan Limbangan Sukaraja Sukabumi.
Gabungan rasa lapar yang mendera, udara sejuk, keramah-tamahan sang
pemilik rumah makan dan tentunya masakan yang lezat telah melengkapi kenikmatan
perjalanan.
Ayam Goreng bertaburkan serundeng kelapa, oseng ikan peda bertabur
pete, tumis sayur kangkung, lalapan segar dan sambal yang terhidang di meja
makan telah lenyap berpindah ke dalam ruang perut, menyisakan piring dan
mangkok yang licin. Tak perlulah bercerita satu-persatu tentang cita-rasa,
tekstur dan segala ulasan kuliner,
cukuplah foto-foto yang akan menggambarkan kelezatan masakan Rumah Makan Fathimah.
Ternyata, sebuah rumah makan kecil di tempat terpencil tidak dapat
disepelekan kualitasnya.
Menu sarapan merupakan sasaran “perburuan” makanan untuk pengisi perut
pada pagi hari. Banyak pilihan jenis dan ragam olahan untuk sarapan di setiap
daerah, dari mulai: bubur, nasi uduk, nasi kuning, lontong sayur, kupat sayur,
soto mie dan lain sebagainya. Pada umumnya makanan ini porsinya relatif kecil
(kategori medium-meal), bertekstur
ringan dan mudah dicerna.
Di Kabupaten Bangkalan, Madura, yang dikenal sebagai surganya para
penggemar kuliner, terdapat berbagai menu sarapan pagi.
Setelah subuh, jika anda masih ingin kebagian, bersegeralah menuju daerah sekitar alun-alun untuk
mendapatkan BUBUR NASI yang masih
panas mengepul di dalam mangkuk daun pisang (pincuk). Tidak seperti bubur ayam, yang bertaburan suwiran ayam
goreng, krupuk dan lainnya, pada bubur nasi khas Bangkalan tidak ditemukan topping apapun, namun rasanya sangat
gurih melampaui kelezatan bubur sejenisnya, berstektur lebih cair dibanding
bubur ayam yang kita kenal.
Jika tidak kebagian bubur nasi panas (biasanya jam 5:30 sudah tandas),
jangan khawatir, masih ada menu lainnya. Berjalanlah ke arah Pecinan, dan temui
penjual NASI SERPANG.
Nasi Serpang adalah “nasi uduknya” Bangkalan, lagi-lagi dengan piring
dari daun, yang berisi nasi putih biasa dengan satu set macam-macam lauk di
dalamnya. Volume lauk-pauk tersebut masing-masing sedikit (mungkin ini
menginspirasi nasi kucing) terdiri dari: sepotong telur asin, tongkol bumbu
merah, kerang, suwiran daging goreng, pepes jengkang (sejenis kepiting kecil
yang kulitnya lunak, saat ini sudah langka keberadaannya) dan tentunya sambal
yang terbuat dari cabe rawit Madura. Kombinasi berbagai lauk dengan nasi putih
hangat menghasilkan rasa gurih-asin yang menjadi ciri khas kuliner Bangkalan.
Sebuah rasa yang sulit ditemui padanannya pada menu masakan daerah lainnya.
Setelah jalan-jalan sejenak, barangkali anda merasa lapar lagi. Anda
bisa menikmati sate. Haah....makan sate pagi-pagi? Oh ya, di Bangkalan terdapat
varian sate, dari pagi sampai malam hari.
Sebelum jam 10 pagi, biasanya pedagang sate berkeliling di sekitara
perumahan. Kali ini akan dipilih penjual sate yang mangkal di sekitar pasar.
Sate ini tidak akan anda temui di tempat lain, disebut SATE LAPPA MERAH (sate berbumbu merah), dibuat dari daging sapi
Madura yang terkenal gurih dan empuk.
Sate Lappa Merah bumbunya berwarna merah, berasal dari cabe merah
(yang telah dibuang bijinya agar tidak terasa pedas), bawang merah dan putih,
kemiri, santan dan bumbu lainnya (untuk mengetahui resep rahasianya, saya mesti
sekali lagi mengunjungi Bangkalan). Daging sapi Madura yang gurih, empuk dan
matang “dicocol” pada bumbu lappa merah disantap bersama ketupat menghadirkan
raa lezat yang luar biasa pada lidah. Saya merasa ketagihan dengan cita rasa
gurih ini.
Masih banyak lagi makanan enak dan unik di Bangkalan. Benar kata
Bondan Winarno, kota ini adalah surga bagi penikmat kuliner.
Selamat mencoba.
Sukses untuk anda.
Waroeng R2L 89 adalah salah satu usaha kuliner yang baru berkembang di
Kota Sukabumi, meski sang pengelola adalah pengusaha kuliner yang telah
berpengalaman. Terletak di dalam perumahan Puri Cibeureum 2 Jl. Wijaya Kusuma
No. 2 Kota Sukabumi, tempat ini meawarkan suasana homy dengan latar belakang
pemandangan perbukitan daerah Sukaraja.
Menu utama yang ditawarkan adalah: Baso, Mie Ayam, Yamien, Nasi
Timbel, Ayam Bakar/Goreng dan lainnnya yang dibuat sendiri dari bahan-bahan yang
baik dan sehat dikonsumsi. Meskipun tidak menggunakan penyedap rasa, seperti
baso/mie ayam lainnya, namun kelezatan rasa alami daging baso dan kelembutan
mie ayam produksi sendiri terasa sangat lezat. Cocok bagi mereka yang tidak
menyukai penyedap rasa vetsin/msg.

Harganyapun cukup terjangkau, mungkin pengelola tidak terlalu
memperhitungkan beban sewa tempat. Lokasipun sebetulnya tidak sulit dijangkau,
termasuk di dalam wilayah cibeureum/selakaso Sukabumi. Anda bisa search tempat
ini di Google Maps dengan nama : Waroeng R2L 89, sehingga anda dengan mudah
dipandu oleh Google.
Semoga bermanfaat.
Sukses untuk anda!
G
udeg adalah masakan khas yang lumrah ditemui di Jogyakarta, terbuat
dari gori (nangka muda) dan rasanya
cenderung manis. Berbagai outlet
menyediakan masakan gudeg, dari mulai warung sederhana sampai rumah-makan papan
atas. Dari mulai yang legendaris sampai dengan yang tersedia di hotel
berbintang. Demikian populernya gudeg, sehingga ia menjadi salah satu oleh-oleh
“wajib” ketika berkunjung ke Jogyakarta, dengan pilihan kemasan berupa besek
sampai kendil. Tingkat harga yang ditawarkan bervariasi, tergantung: tempat,
nilai historis, kemasan dan tentunya kelezatan rasa.
Konon, gudeg merupakan makanan ransum tentara pejuang pada jaman
perang di wilayah Jogya dan sekitarnya, karena dapat disimpan selama masa
perjuangan, bahan-bahan yang mudah didapat dan disukai banyak orang. Oleh
karenanya, masakan ini mampu bertahan sampai saat ini dengan komposisi yang
tidak berubah. Barangkali yang berubah adalah bahan bakar untuk memasaknya,
dari awalnya menggunakan tungku kayu bakar menjadi kompor berbahan-bakar gas.
Gudeg disantap bersama nasi putih atau nasih merah, krecek, areh ayam kampung suwir dan telur ayam
bulat. Untuk mendapatkan cita-rasa gudeg yang lezat, dibutuhkan sedikitnya 5
jam pematangan gori dan bumbu-bumbu
lainnya. Gudeg terasa manis saat dikunyah. Masakan krecek berbahan baku kulit
sapi, rasa pedasnya berasal dari cabe rawit kuning-kemerahan (lombok abang). Sedangkan areh (hampir mirip opor, tetapi lebih
kering) merupakan masakan ayam kampung, telur dan tahu yang direbus lama di
dalam santan dan blondo. Blondo adalah olahan minyak kelapa yang
menghasilkan aroma khas dan terasa sangat gurih.
Gabungan nasi putih hangat, gudeg yang manis, areh yang gurih dan
krecek yang pedas akan menghasilkan kombinasi rasa yang sulit ditemui
bandingannya pada masakan lain.
Salah satu penyedia masakan gudeg beserta lauk-pauknya, adalah Gudeg Yu Kartini di kisaran Jetis Jalan Trimargo Kulon Cokrodiningratan
Yogyakarta. Warung sangat sederhana ini berada di perkampungan seberang SMK
3 Yogyakarta. Selain gudeg, tersedia juga bubur nasi yang sangat enak. Warung
ini hanya buka pagi, dari jam 6.00 sampai jam 10.00.
Pada siang hari, Yu Kartini akan mengolah gudeg dan kawan-kawannya
untuk dijual di Lesehan Gudeg Mbah Cokro
di Jalan Diponegoro No. 79 Jogyakarta, yang buka pada sore hari sampai jam
10:00 malam. Kelezatan dan cita-rasanya sama persis.
![]() |
| Warung Gudeg Yu Kartini |
Manisnya gudeg di sini cocok bagi lidah penikmat kuliner luar jawa-tengah,
rasanya sangar lezat berpadu dengan krecek yang sedang pedasnya (jika kurang
pedas disediakan sambal), areh
suwiran ayam kampung yang sangat gurih dan empuk. Baru-baru ini tiga orang wisatawan
(1 orang dari Jawa Barat, 1 orang berdarah Sumatra Utara dan seorang dari
Madura) melahap nasi gudeg seharga total tak lebih dari Rp. 50.000,00!
![]() |
| Gudeg Yu Kartini |
![]() |
| Areh Ayam Kampung, Telur, Tahu |
![]() |
| Krecek |
Yu Kartini adalah penerus tradisi pengolah gudeg, dimana ritual
memasak gudeg merupakan kegiatan yang dilakukan secara turun-temurun.
“Pelatihan” memasak gudeg yang built-in
dalam tradisi keluarga telah
menghasilkan cita-rasa masakan yang memiliki ciri unik. Resep dan cara memasak
bisa saja diduplikasi, namun olahan rasa yang dihasilkan tidak akan selezat
masakan para pewaris “standard recipe”
gudeg. Diperlukan roso, kesabaran,
konsistensi dan passionate dalam
memasak gudeg. Menurut pengakuan Yu
Kartini, ia hanya bisa berisitirahat selama 5 jam setiap harinya.
![]() |
| Yu Kartnin dan Gudeg |
Namun Yu Kartini masih mau menyediakan waktu, jika ada peminat kuliner
yang ingin belajar cara memasak gudeg sesuai patronage. Sedikitnya diperlukan waktu empat hari untuk belajar
proses memasaknya, tergantung kemampuan sang murid. Syaratnya lumayan berat, ia
harus mampu mengikuti ritual dan ritme yang telah dilakukan Yu Kartini selama
puluhan tahun!
Bagi yang berminat silahkan menghubungi Yu Kartini di nomor telpon:
0822 2508 7040. Siapa tahu kelak akan menjadi olahan gudeg penerus tradisi
masakan khas di luar kota Jogya.
Bagi sebagian perantau -mereka yang hidup jauh dari daerah asalnya-
entah yang sedang menuntut ilmu maupun yang sedang mencari nafkah bagi
keluarga, kebutuhan makan sehari-hari cukup menjadi persoalan. Dari mulai
mencari menu makanan, tempat makan, selera dan harga. Pilihan makanan jadi
dipasaran sangat variatif, namun yang dikonsumsi itu-itu saja. Apalagi jika
kondisi keuangan sedang terbatas, maka alternatif makanan yang murah-meriah
menjadi pilihan satu-satunya.
Saat ini kegiatan masak-memasak bukan hanya milik kaum hawa, tetapi
banyak pria juga berkeahlian memasak. Ada baiknya, sesekali masak sendiri.
Dengan catatan: ada peralatan minimal (alat penanak nasi, kompor, penggorengan,
panci dan tentunya piring, sendok, gelas). Jika peralatan masak dirasa kurang, boleh
juga meminjam ke gadis manis putri pak RT sekaligus bersilaturahmi. Siapa tahu
jodoh?
Masak sendiri menjadi seni tersendiri, selain lebih terjamin
kebersihannya juga bisa lebih enak, murah bahkan bisa dimakan ramai-ramai
dengan tetangga sesama perantau. Sisi lain yang didapat dari kegiatan memasak
adalah refreshing, menyingkirkan
pikiran dan rutinitas. Segera setelah bangun pagi, ngopi dan sikat gigi,
bersegeralah ke warung terdekat untuk membeli bahan-bahan berupa: 1 liter beras
(harga Rp. 8.000); sekantung paket sayur asem (Rp. 2.500); sekerat tempe (Rp.
2.000); ½ ons teri yang sedang kualitasnya (Rp. 4.000); minyak goreng sachet
(Rp. 3.000); paket sambelan (cabe merah & rawit, bawang merah, bawang
putih, tomat: Rp. 3.000); lengkuas dan 2 lembar daun salam(Rp. 1.000); asam
jawa (plastik kecil, harga Rp.500); kemiri (kemasan plastik kecil isi 2 atau 3
butir Rp. 500). Total belanja: Rp. 24,500,00.
Beras yang telah dicuci bersih dimasak dengan alat penanak nasi.
Siapkan bumbu sayur asem dan bersihkan: 1 cabe merah, 5 siung bawang merah, 3
siung bawang putih, kemiri semuanya dihaluskan, lengkus dipipihkan tambahkan
daun salam lalu masukkan ke dalam panciyang telah berisi 4 gelas air mendidih.
Masukkan bahan sayur asem yang telah dibersihakan dan dipotong-potong secara
berurutan: jagung manis, buah melinjo (jika suka bisa ditambahkan kacang tanah,
kacang bogor atau kacang merah), nangka muda, pepaya muda, kacang panjang, labu
siam dan terakhir daun melinjo dan potongan tomat. Boleh juga dimasukkan
beberapa cabe rawit utuh, agar kelak timbul sensasi luar biasa saat cabe rawit
tergigit. Tambahkan garam, asam jawa, ½ sendok makan gula pasir dan penyedap
rasa atau beef/chicken powder jika suka.
Cicipi kehadiran harmoni rasa asin dan manis samar-samar dengan rasa
asam yang cenderung dominan. Jika ada tetangga yang bertanya: “ Sedang masak
apa mas?”. Maka masakan sayur asam dipastikan telah matang dan lezat rasanya.
Untuk membuat masakan kering tempe teri, potong tipis dan kecil-kecil
tempe. Siapkan bumbu untuk diiris-iris halus: 3 siung bawang putih, 1 cabe
merah, lengkuas. Sedikit asam jawa dilarutkan dalam air panas, biarkan
mengendap. Goreng irisan halus tempe sampai kekuningan dan kering, gunakan api
sedang. Tiriskan. Goreng teri sampai kecoklatan. Tiriskan. Goreng irisan bawang
putih dan cabe merah dalam 3 sendok makan minyak goreng, sampai kecoklatan dan
agak kering. Angkat dan tiriskan. Tumis lengkuas dan daun salam dalam minyak
bekas menggoreng bawang putih, setelah bau harum tambahkan air asam jawa, sedikit
garam, satu sendok makan gula dan penyedap. Masak sampai airnya menguap,
kecilkan api lalu masukkan hasil goreng tempe dan teri. Aduk rata dan cepat
matikan api. Aroma masakan ini akan membuat perut lapar.
Nasi hangat disajikan dalam alat penanak nasi (maklum tidak punya
tempat nasi), bersama dengan sepanci sayur asam yang masih panas dan kering
tempe teri, siap disantap bersama-sama dengan tetangga sesama perantau (bisa
untuk 4 – 5 porsi).
Sisihkan sebagian sayur asam dan kering tempe teri sebagai pemikat
gadis manis yang telah berbaik-hati meminjamkan hatinya....eh...peralatan
masaknya.
Selamat mencoba dan sukses untuk anda
Jengkol adalah sejenis bahan makanan yang banyak di konsumsi di daerah
Jawa Barat. Mungkin terdapat juga di daerah lain, meski langka ditemui (atau
tidak dikenal?). Bagi para penyuka, biji-bijian berkeping dua ini sangat lezat
dimakan dengan nasi hangat sambal dan lalap. Olahan makanan ini dikenal mampu
meningkatkan selera.
Beberapa cara dilakukan untuk mengolah jengkol menjadi penganan yang
lezat, di ataranya:
- Dimakan mentah, untuk jengkol yang masih muda. Rasanya getir dan aromanya sangat tajam. Mungkin tidak semua orang bisa menikmati cara ini.
- Dikukus. Jengkol yang telah matang dikukus dimakan bersama dengan kelapa parut yang telah ditaburi sedikit garam dan gula pasir. Cocok menjadi kudapan sore hari dengan secangkir teh hangat.
- Digoreng. Irisan jengkol digoreng sampai hampir kering lalu ditaburi garam dapur menjadi lauk bersama dengan sambal.
- Dimasak bumbu rendang. Jengkol yang telah dibelah dimasak dengan rempah rendang dalam waktu cukup agar bumbu meresap dan empuk.
- Dimasak tumis kecap. Jengkol yang tua (juga disebut “sepi”) diiris agak tipis, direndam dalam air panas yang telah dilarutkan garam. Buang air keruh putih lalu dicuci bersih. Goreng sampai agak kering. Tumislah bumbu bawang merah. Bawang putih, laos, salam, sereh, irisan cabe rawit merah, lalu masukkan gorengan jengkol. Tambahkan kecap, gula pasir, garam secukupnya.
Jika memungkinkan, proses masak jengkol menggunakan tungku kayu bakar
akan membuat aromanya semakin enak.
Powered by Blogger.




















